Gadis Berikat Rambut Merah

 Gadis Berikat Rambut Merah

Hari ini seperti ada lonjakan semangat yang besar dalam dalam diriku untuk berangkat ke sekolah. Aku sampai lebih pagi di sekolah, tidak seperti biasanya. Sekolah masih sangat sepi, jadi kuputuskan untuk pergi ke kantin terlebih dahulu untuk mengisi perutku. Lorong demi lorong ku lewati dan tetap keheningan yang ku rasakan. Tidak biasanya kurasakan karena di jam istirahat selalu terdengar senda gurau para penghuni kelas.


Tiba di kantin, aku mendapati kios-kios yang baru bersiap untuk menjual makanan yang lezat. Perutku sudah terlalu keroncongan untuk menahan lapar, kupilih kios yang tampaknya sudah tidak bersiap-siap lagi. Kios di ujung sana tampak seperti memanggilku untuk segera datang ke sana. Kupercepat langkahku agar bisa segera mengisi perut yang terus meraung ini.


“Masak apa Bu hari ini?”


“Aduh, Mas Deon ngagetin saya aja pagi-pagi. Jarang loh saya lihat Mas Deon dateng pagi gini.” aku terkekeh mendengar jawaban Ibu Kantin karena memang jarang aku datang sepagi ini.


“Hehe iya Bu. Lagi pengen aja nih.”


“Saya masak nasi kuning sama nasi uduk hari ini. Mas Deon mau yang mana?” 


Aku melihat ke arah etalase yang mengembun karena uap dari kedua makanan yang ditawarkan Ibu Kantin. Keduanya tampak sangat nikmat hingga aku bingung harus memilih yang mana.


“Nasi uduk aja, Bu. Sama air putih ya” 


Aku langsung memberikan uang untuk membayar sarapanku lalu segera duduk di kursi yang tak jauh dari kios. Sembari menunggu, aku memainkan ponselku dan tak jarang melihat ke sekelilingku barangkali ada yang ku kenal. Sejauh ini hanya guru yang ku lihat dan beberapa murid yang terlihat ambisius di mataku, aku tidak tertarik untuk mengobrol dengan mereka. Pada akhirnya aku kembali fokus dengan ponselku untuk sekedar membaca berita dan menonton video singkat, hingga pesananku tiba.


“Hai, Deon! Dateng pagi banget nih, ada apa hayo?” 


Suara seorang gadis mengagetkanku. Suaranya tidak asing, aku sangat mengenal suara itu. Gadis berambut tidak terlalu panjang yang selalu diikat ponytail dengan pita merah merekah yang bertengger di rambutnya. Tingginya hanya sepundakku dan aroma buah strawberry yang identik dengannya. Tak salah lagi dia Nayla, teman kecilku yang sampai saat ini masih dekat denganku. Akhir-akhir ini aku mulai menyimpan rasa suka padanya. Kurasa itu yang membuat lonjakan semangatku melampaui batas hari ini.


“Aku temenin kamu sarapan ya, ga ganggu kok. Aku mau lanjutin belajar semalem aja buat ulangan nanti.” 


Mentari menyinari tempat duduk kami, hawa yang tepat untukku terbuai dalam lamunan. Melihat Nayla yang ada di depanku saat ini dengan ekspresinya yang serius saat membaca buku catatannya. Walau aku menyukainya saat ini, namun tidak bisa aku ucapkan. Duduk berdua dengan orang yang kusukai tanpa mengungkapkan perasaanku sendiri membuat rasa sakit timbul di dadaku. Jauh di lubuk hatiku yang dalam, ingin kubisikan perasaanku pada Nayla agar tidak mengejutkannya.


“Nay, kamu cantik kalo lagi serius.” ucapku dalam lamunan yang disadari oleh Nayla.


“Eh?” tampaknya ia terkejut dengan ucapan tidak sengajaku.


Aku pun tidak menyangka ucapan itu keluar dari bibirku. Mungkin di matanya, saat ini aku berlagak aneh karena ketidaksengajaanku. Ketidaksengajaan yang membuat mata kami bertemu selama beberapa detik. Mata indah milik Nayla yang membuatku jatuh padanya. Hanya saja, pandangan itu membuatku tersadar bahwa kami hanya sebatas teman kecil yang bertumbuh bersama hingga remaja. 


“Deon?”


“Oh, eh, engga. Tadi keceplosan doang. Nasi uduknya yang cantik.”


“Ada-ada aja kamu ih.” balasnya dengan tawa lalu kembali fokus pada buku.


Kuyakini jika ku ungkapkan perasaanku saat ini semuanya akan lenyap seketika. Ikatan cinta seerat ikat rambut ponytail Nayla, seerat itu rasa yang ada padaku untuknya. Bisa saja saat ini aku menyentuh ikatan itu, hanya saja aku tidak ingin menghilangkan apa yang ada saat ini. Aku tidak mau kehilangan gadis ceria, gadis energik, gadis yang riang, gadis yang penuh perhatian, itu semua ada dalam diri Nayla. 


“Nay, tetap begini ya. Jadi gadis riang yang aku kenal.”  


“Kamu demam ya?” Nayla mengulurkan tangannya memegang dahiku.


“Aneh banget hari ini?” lanjutnya yang hanya bisa kubalas dengan kekehan.


“Gapapa, Nay. Aku mau temenan sama kamu lebih lama lagi. Jangan pergi ya.”


Andaikan aku dapat ungkapkan cinta ini, saat ini juga. Padahal aku telah menyiapkan kata-kata dalam hati, namun ingatan bahwa kami sebatas teman terus berputar. Cintaku telah kehilangan momentum dan kini hanya berharap semoga aku bisa mengejarnya di kesempatan kedua. Itu sebabnya, aku masih ingin lebih lama berteman dengan Nayla.

 Jantungku tak pernah berdegup sekencang ini. Rasanya mau berhenti saat melihatmu duduk di depanku. Pasti pagi ini akan membuatnya kepikiran.  Setidaknya hanya ini yang dapat aku lakukan untuk menjaganya dan menjaga hubungan kami. Hubungan seerat pita rambut merah yang selalu ia kenakan tanpa pernah terputus.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Biografi Windah Basudara

Menghadapi Polarisasi Sosial di Era Informasi